Kelebihan-kelebihan Asuransi Syariah (Bagian 2)

Pada bagian pertama, kita sudah melihat indikator kinerja utama asuransi syariah tahun 2018 dan 2019.  Pertumbuhan asset dan kontribusi (premi) asuransi syariah dari 2018 ke 2019 masih di bawah 10%.  Lebih spesifik asuransi umum syariah, kontribusinya malah turun 1%.

Market share asuransi syariah juga masih relatif kecil jika dibandingkan dengan asuransi konvensional, hanya sekitar 6%.  Sisi positifnya, market share yang kecil masih cukup banyak ruang untuk terus tumbuh.  Hal ini rasanya bukan basa-basi karena potensi market yang sangat besar untuk asuransi syariah di Indonesia.

Potensi market yang besar yang didukung oleh kelebihan-kelebihan yang dimiliki asuransi syariah diharapkan mampu meningkatkan minat masyarakat yang pada akhirnya dapat meningkatkan market share asuransi syariah di Indonesia khususnya.

Kelebihan-kelebihan asuransi syariah tersebut, kita jabarkan sebagai berikut:

Pertama, asuransi syariah mempunyai akad yang jelas sehingga terhindar dari unsur ghoror (ketidakjelasan akad).  Prinsip dasar asuransi syariah adalah berbagi risiko (risk sharing), dalam prinsip ini, risiko tidak dialihkan kepada perusahaan asuransi.  Risiko malah dikumpulkan dan bersama-sama dibawah oleh sekelompok pemilik risiko.  Skema mutual gurantee ini  diimplementasikan dalam bentuk pool of fund atau disebut juga dana tabarru'.  Setiap klaim yang sah akan dibayarkan dari dana tabarru' ini.

Dengan demikian, peran perusahaan asuransi bukan lagi sebagai penanggung, melainkan pengelola skema pembagian risiko.  Dengan konsep ini, pemilik risiko disebut peserta [bukan tertanggung (yang mengasuransikan)] dan perusahaan asuransi disebut operator (bukan penanggung).  Uang yang dibayarkan peserta untuk mengembangkan (memperbesar) dana tabarru' bukan lagi premi melainkan kontribusi.  Sebenarnya, istilah sumbangan lebih tepat karena uang yang dimasukkan ke dalam dana tabarru' oleh peserta dianggap sebagai sumbangan atau sumabangan dengan skema gotong royong (risk sharing).  Sedangkan kata "premi" atau "premium" memiliki konotasi harga akad jual beli atau tukar menukar yang cocok untuk asuransi konvensional tetapi tidak cocok untuk asuransi syariah.

Kedua, dalam skema risk sharing, terkandung niat atau motivasi tolong menolong (ta'awun) diantara sesama peserta asuransi yang tentunya hal ini bernilai ibadah.  Apalagi ada pula ungkapan bahwa bekerja adalah (bernilai) ibadah dimana ibadah adalah nama/sebutan bagi setiap aktivitas manusia yang dicintai Allah dan/atau diridhoi Rosul-Nya (al 'ibadah hiya ismun li-kullii maa yuhibbuhullahu warosuuluh).  Sekurang-kurangnya, dalam muamalah Islam terkandung nilai-nilai ubudiah (ibadah) dan dalam ibadah (ubudiah) terkandung pula nilai-nilai muamalah.  Hal ini mengingat Islam adalah agama ibadah dan sekaligus agama muamalah.

Ketiga, konsekuensi dari risk sharing, dana yang terkumpul dari nasabah (kontribusi) merupakan milik peserta, perusahaan asuransi hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya yang diberikan imbalan berupa fee atau ujroh pada akad wakalah bil ujroh atau berupa bagi hasil investasi apabila menggunakan akad mudhorobah.  Untuk memahami hal ini, akan dibahas tersendiri pada kesempatan berikutnya).

Keempat, pembayaran klaim diambil dari rekening tabarru' seluruh peserta yang sejak awal memang sudah diikhlaskan oleh peserta untuk keperluan tolong menolong bila terjadi musibah.

Kelima, menjalankan roda perusahaan asuransi dengan orientasi menjalin kerjasama di antara pemilik saham (anggota) dan mengembalikan dana yang tersisa kepada para peserta.

Keenam, investasi pada perusahaan asuransi syariah harus dilakukan pada skim investasi berbasis syariah.

Ketujuh, hanya menjalankan jenis asuransi yang sah menurut syariat dan hal-hal (objek pertanggungan) yang halal.

Kedelapan, disiplin mentaati hukum syariat dan sekaligus hukum negara.

Kesembilan, tunduk pada mekanisme pengawasan syariat.

Kesepuluh, diwajibkan memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS).

Dari hal-hal di atas, dapat kita lihat bahwa kelebihan utama asuransi syariah terletak pada niat dan motivasi, akad, peralihan modal dan perbedaan objek pertanggungan.

Kelebihan yang hakiki asuransi syariah terletak pada risk sharing yang mengandung konsekuensi tidak adanya ghoror (ketidakpastian/ketidakjelasan), maisir (gambling/judi) dan tidak adanya unsur riba dalam asuransi syariah.


Referensi:

  • Why is conventional insurance not in line with Shariah? (www.dkhairat.com)
  • https://dkhairat.com/2020/02/12/12-why-is-conventional-insurance-not-in-line-with-shariah-part-2/
  • https://dkhairat.com/2020/02/17/13-how-to-make-insurance-in-line-with-shariah/
  • Asuransi Syariah di Indonesia, telaah teologis, historis, sosiologis, yurudis dan futurologis. Prof. Dr. Drs. KH. Muhammad Amin Suma, BA, SH, MA, MM dan Iim Qoimudin Amin, SE, MSi, AAAIK, AIIS.  Penerbit Amzah, Jakarta.

0 Comments

Post a Comment