TRIPA SYARIAH, Tak Kenal ? Ta'aruf Yuuuk

Dalam dimensi waktu, TRIPA SYARIAH sudah tidak bisa dikatakan "anak-anak" lagi.  Insya Allah menuju 19 tahun pada 2 Juli 2021, sudah menginjak usia "remaja" yang penuh dinamika.  2 Juli 2002 merupakan tonggak lahirnya TRIPA SYARIAH.  Pada tanggal tersebut TRIPA SYARIAH memperoleh izin usaha untuk memberikan layanan bisnis asuransi umum syariah dari Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor Krp-146/KM.6/2002 sebagai Unit Usaha Syariah (UUS) dari PT Asuransi Tri Pakarta.

Bersinergi dengan TRIPA KANTOR PUSAT, layanan jaringan (networking services) nya menjangkau hampir seluruh Indonesia.  Pusat layanan atau kantor pusat Unit Usaha Syariahnya berlokasi di Jakarta Selatan, satu gedung dengan TRIPA Kantor Pusat.  Pusat layanan di Jakarta didukung oleh 3 kantor Unit Unit Layanan Syariah di lokasi strategis:  Surabaya, Bandung dan Banjarmasin.

Gambar 1. Jaringan Pemasaran TRIPA SYARIAH

Kantor-kantor Cabang dari TRIPA Pusat yang tersebar di 16 wilayah Indonesia berperan juga sebagai office channeling TRIPA Syariah.  Ke-16 office channelling tersebut berlokasi hampir di semua pulau-pulau besar Indonesia.  Di Pulau Jawa terdiri dari  kota-kota berikut:  Jakarta Harmoni, Jakarta Pondok Indah, Jakarta Sudirman, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang.  Office channeling di Pulau Sumatera meliputi kota Medan, Pekanbanru dan Palembang.  Office channelling di Pulau Kalimantan dan Sulawesi berlokasi di kota-kota berikut : Banjarmasin, Balikpapan, Makassar, Manado.  Pulau Balipun tidak lepas
dari layanan office channelling, lokasinya berada di kota Denpasar.

Tidak cukup dengan office channelling, layanan TRIPA Syariah juga bersinergi dengan Kantor Perwakilan (Representative Office - RO) dari TRIPA PUSAT.  RO lebih banyak lagi mencakup seluruh pulau-pulau besar di Indonesia, dari Pulau Sumatera sampai Papua.  RO tersebut saat ini berjumlah 33 kantor.  Jika diurut berdasarkan abjad, kantor-kantor RO tersebut tersebar mulai dari Banda Aceh, Batam, Bekasi, Bengkulu, Bogor, Cirebon, Gresik, Jambi, Jayapura, Jember, Kediri, Kelapa Gading, Kendari, Kupang, Lampung, Mataram, Mojokerto, Padang, Palangkaraya, Palu, Pare-pare, Pematang Siantar, Pontianak, Purwokerto, Rengat, Samarinda, Serang, Solo, Sukabumi, Surabaya Kusumabangsa, Tangerang, Tarakan dan Tasikmalaya.

Prinsip syariah tidak memerintahkan seseorang untuk menyerahkan segala sesuatu kepada Yang Maha Kuasa, tanpa melakukan ikhtiar apapun sebelumnya.  Setiap insan diwajibkan untuk berusaha semaksimal mungkin menghidari bahaya. Salah satu hadits terkenal yang terkait dengan pentingnya usaha (ikhtiar) adalah:

 قَالَ عَمْرُو بْنِ أُمَيَّةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَّ اللَّةِ ! أُقَيّدُ رَاحِلَتِيْ وَأَتَوَكَّلُ عَلَى اللَّهِ، أَوْأُرْسِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ؟ قَالَ : قَيِّدْهَا وَتَوَكَّلْ

“Amr bin Umayah Radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah !!, Apakah aku ikat dhulu unta (tunggangan)-ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal ? ‘Beliau menjawab, ‘Ikatlah kendaraan (unta)-mu lalu bertawakkallah”. [Musnad asy-Syihab, Qayyid ha wa Tawakkal, edisi 633, 1/368]

Hadits di atas menegaskan pentingnya pengelolaan atau mitigasi risiko dan salah satu penegasan bahwa risk management merupakan hal yang utama dalam Syariah Islam.  Salah satu cara pengelolaan risiko adalah dengan asuransi, tentunya asuransi yang sesuai dengan tuntutan syariah yaitu asuransi syariah.

Dengan dasar bahwa setiap insan harus berikhtiar maksimal, TRIPA SYARIAH pun berikhtiar optimal memberikan layanan-layanan produknya.  Produk TRIPA SYARIAH relatif lengkap selain itu tentu akan sangat menentramkan karena terhindar tiga hal yang biasa disingkat MaGhRib, yaitu : (1) maisir (untung-untungan atau judi), (2) ghoror (ketidakpastian akag), dan (3) riba.  Asuransi syariah mempunyai akad yang jelas sehingga terhindar dari unsur ghoror (ketidakjelasan akad).  Hal ini tidak lain karena prinsip dasar asuransi syariah adalah berbagi risiko (risk sharing) dimana dalam prinsip ini, risiko tidak dialihkan kepada perusahaan asuransi, risiko malah dikumpulkan dan menjadi risiko bersama (the risk is instead collected and jointly carried by a group of risk owners).  Skema mutual gurantee tersebut di-implementasikan dalam bentuk pool of fund atau disebut juga dana tabarru'.  Setiap klaim yang sah akan dibayarkan dari dana tabarru' ini. 

Dengan demikian, peran perusahaan asuransi bukan lagi sebagai penanggung, melainkan pengelola skema pembagian risiko.  Dengan konsep ini, pemilik risiko disebut peserta [bukan tertanggung (yang mengasuransikan)] dan perusahaan asuransi disebut operator (bukan penanggung).  Uang yang dibayarkan peserta untuk mengembangkan (memperbesar) dana tabarru' bukan lagi premi melainkan kontribusi.  Walaupun nampaknya istilah sumbangan lebih tepat karena uang yang dimasukkan ke dalam dana tabarru' oleh peserta dianggap sebagai sumbangan atau sumbangan dengan skema gotong royong (risk sharing).  

Konsep syariah tersebut ter-implementasi dalam produk-produk yang ditawarkan TRIPA SYARIAH.  Secara rinci, produk-produknya mencakup berbagai jenis asuransi sebagai berikut:

Asuransi Kebakaran Syariah

Produknya mulai dari asuransi kebakaran standar sampai asuransi kebakaran yang lengkap (property all risk, industrial all risk) dengan perluasan bencana alam banjir, gempa bumi, kerusuhan dan huru-hara, terrorisme dan sabotase.  Produk ini sesuai untuk ikhtiar melindungi properti mulai dari rumah tinggal sampai pabrik-pabrik yang complicated.  Besarnya kontribusi (premi) yang harus dibayar peserta untuk risiko kebakarannya sudah diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Asuransi Kendaraan Bermotor Syariah

Desain asuransi kendaran bermotor syariah dibuat untuk ikhtiar memberikan kompensasi keuangan kepada peserta apabila kendaraannya mengalami kerugian atau kerusakan. Jaminannya, secara garis besar ada dua, yaitu (1) komprehensif (comprehensive) dan (2) kerugian total (total loss).  Jaminan komprehensif lebih luas yaitu selain menjamin kerusakan kendaraan, menjamin juga tuntutan hukum dari pihak ketiga akibat kerugian atau kerusakaan karena kendaraan yang diasuransikan tersebut.  Sedangkan kerugian total, memberikan kompensasi keuangan sebesar harga pasar kendaraan bermotor dikurangi dengan risiko sendiri apabila terjadi dua hal, yaitu (1) kendaraan bermotornya hilang dicuri dan (2) kendaraan bermotor mengalami kerusakan atau kerugian yang biaya perbaikannya lebih besar dari 75% dari harga pasar kendaraan tersebut.

Asuransi Pengangkutan Barang (Marince Cargo) Syariah

Asuransi ini adalah ikhtiar peserta dari kerugian atau kerusakan barangnya selama dalam perjalanan, baik perjalanan darat, laut maupun udara.  Rutenya bisa lokal maupun internasinal, bisa antar pulau dalam suatu negara, bisa juga lintas negara.

Asuransi Engineering Syariah

Asuransi ini dalam rangka ikhtiar peserta terhadap musibah yang mungkin terjadi atas proyek-proyek peserta maupun untuk mesin-mesin yang tidak terkait proyek.  Proyek tersebut misalnya proyek konstruksi sipil dan non-sipil, pembangunan power plant, jalan tol dan lain-lain.  Untuk non-proyeknya antar lain jenis asuransi engineering ini untuk meng-cover mesin-mesin industri.

Asuransi Kapal Laut Syariah

Sesuai namanya, asuransi ini memberikan kompensasi keuangan kepada peserta apabila kapalnya mengalami kerugian atau kerusakan akibat bahaya-bahaya laut.  Luas jaminannya secara umum terbagi dua, yaitu jaminan apabila kapal mengalami kerugian total (total loss) dan jaminan komprehensif yaitu jaminan terhadap kapal yang mengalami kerugian atau kerusakan dimana kerusakannya lebih dari risiko sendiri peserta yang biasanya besarnya risiko sendiri 1% dari harga kapal.

Asuransi Aneka Syariah

Asuransi aneka terdiri dari Asuransi untuk alat-alat berat (heavy equipment), asuransi kecelakaan diri (personal accident), asuransi uang, asuransi tanggung gugat (liability insurance). 

Kinerja Keuangan TRIPA SYARIAH

Sebagaimana sudah disampaikan di atas, bahwa kontribusi dari peserta akan terbagi menjadi dua yaitu dana tabarru' (dana milik seluruh peserta untuk pembayaran klaim) dan dana perusahaan, maka dalam laporan keuangannya juga menyajikan dua laporan yaitu laporan dana peserta dan laporan dana perusahaan.  

Penasaran dengan kinerja keuangan TRIPA SYARIAH? Ikhtisar keuangan TRIPA SYARIAH yang terdiri dari Asset Dana Perusahaan, Investasi Dana Perusahaan, Laba Dana Perusahaan dan Ekuitas Dana Perusahaan dapat dilihat pada Gambar 1 berikut:

Gambar 2.  Kinerja Keuangan Dana Perusahaan TRIPA Syariah 2016-2020

Bagaimana profile kinerja keuangan dana pesertanya?  Ikhtisar keuangan dana peserta TRIPA SYARIAH bisa kita lihat dari Gambar 2 berikut:

Gambar 3.  Kineja Keuangan Dana Peserta TRIPA Syariah 2016-2020

Apresiasi TRIPA SYARIAH dari pihak lain juga cukup tinggi.  Indikatornya cukup banyak penghargaan yang diperoleh dalam TRIPA SYARIAH seperti dapat kita lihat pada gambar berikut:

Gambar 4.  Penghargaan-penghargaa TRIPA SYARIAH

Belum puas dengan perkenalan mengenai TRIPA SYARIAH? Syukurlah kalau belum puas, itu yang diharapkan.  Mengapa? karena ketidakpuasan akan mendorong untuk terus dan terus mencari informasi-informasi lainnya. Dan, memang betul, masih cukup banyak aspek-aspek lain dari TRIPA SYARIAH yang belum disampaikan pada tulisan episode ini.  Dalam waktu yang tidak terlalu lama, insya Allah kita lanjut membahas sisi lain TRIPA SYARIAH.

Upaya Meningkatkan Minat Masyarakat terhadap Asuransi Umum Syariah

Minat masyarakat terhadap asuransi syariah lebih tinggi dibandingkan dengan minat masyarakat terhadap asuransi konvensional.  Demikian hasil survey Karim Consulting Indonesia yang dilakukan di 10 provinsi di Indonesia yaitu: (1) Aceh, (2) Banten, (3) Sulawesi Selatan, (4) Kalimantan Timur, (5) Jawa Barat, (6) DKI Jakarta, (7) Jawa Timur, (8) Sumatera Utara, (9) Sulawesi Utara dan (10) Bali.  

Asuransi syariah ada dua jenis, yaitu asuransi jiwa syariah dan asuransi umum syariah.  Asuransi syariah mana yang paling diminati masyarakat ?  Hasil survey Karim Consulting Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat lebih berminat untuk memiliki asuransi jiwa syariah daripada memiliki asuransi umum syariah.  Temuan tersebut mengindikasikan bahwa kesadaran individu masyarakat terhadap asuransi jiwa syariah lebih tinggi daripada asuransi umum.

Temuan lain yang menarik adalah di sisi pemegang polis.  Asuransi jiwa syariah sangat dominan dalam pemegang polis, yaitu mencapai 70% dari total pemegang polis asuransi syariah.  Pemegang polis asuransi umum syariah hanya 10% dari total pemegang polis asuransi syariah.  Demikian pula, nasabah (pemegang) polis asuransi konvensional hanya sebesar 10%.  Sisanya 10% merupakan nasabah asuransi umum syariah sekaligus asuransi jiwa syariah.

Menurut kajian Karim Consulting, hal tersebut diduga disebabkan keputusan pemilihan asuransi jiwa syariah dilakukan pada level individu yang sangat dipengaruhi oleh keterlibatan emosional religius.  Sedangkan keputusan pemilihan asuransi umum dilakukan pada level perusahaan pemberi kredit konvensional.

Selanjutnya, Tim Karim Consulting menyimpulkan preferensi pemegang polis asuransi syariah sebagai berikut:

  • Faktor emosional religius lebih dominan dalam pemilihan asuransi jiwa dibandingkan asuransi umum.

  • Pemilihan asuransi jiwa dilakukan pada level individu (kecuali asuransi jiwa kelompok yang dibayar oleh perusahaan).  Hal ini menunjukkan kesadaran individu akan perlunya asuransi jiwa lebih tinggi mendorong timbulnya inisiatif individu.

  • Pemilihan asuransi umum (non-jiwa) dikaitkan dengan mitra asuransi lembaga keuangan yang memberikan fasilitas kredit (kecuali asuransi non-jiwa yang inisiatif individu).  Hal ini menunjukkan kesadaran individu akan perlunya asuransi umum (non-jiwa) lebih rendah daripada asuransi jiwa.  Kesadaran me-mitigasi risiko dalam asuransi umum lebih besar didorong oleh lembaga pembiayaan yang mewajibkan untuk menggunakan asuransi.

Strategi Meningkatkan Minat Masyarakat terhadap Asuransi Umum Syariah 

Hasil survey Karim Consulting di atas memberikan tantangan tersendiri bagi asuransi umum syariah karena beberapa hal, antara lain: (1) pemilihan asuransi umum syariah tidak didominasi oleh faktor emosional religius, (2) kesadaran individu akan perlunya asuransi umum syariah lebih rendah daripada asuransi jiwa, dan (3) pemilihan asuransi umum lebih dikaitkan dengan mitra asuransi lembaga keuangan.

Faktor emosional religius tidak dominan dalam pemilihan asuransi umum syariah.  Dengan demikian faktor-faktor rasional benefit yang harus dikedepankan oleh asuransi umum untuk menarik minat masyarakat. Layanan prima atau service excellent yang harus didorong oleh asuransi umum dalam rangka menarik minat masyarakat.

Layanan prima (service excellent) yang bisa menjadi andalan asuransi umum, menurut pengamatan penulis diantaranya sebagai berikut:

1.  Kecepatan Penerbitan Polis

Asuransi termasuk juga asuransi umum adalah intangible product yaitu produk yang tidak berwujud secara fisik sebagai mana produk mobil, televisi dan sejenisnya.  Polis yang cepat sampai ke nasabah/peserta dapat memberikan rasa nyaman dan tenang pemengang polis bahwa risikonya telah terproteksi dengan baik oleh perusahaan asuransi sehingga walau intangible tapi seolah bisa dirasakan adanya. Apalagi kalau bentuk polis nya menarik, eye-catching dan elegant, tentu akan meningkatkan citra perusahaan dimata nasabah/peserta.  Sisi lain, kecepetan penerbitan polis menunjukkan reputasi perusahaan yang dapat dipercaya karena cepat dalam pelayanannya.

2.  Sarana Pembayaran Kontribusi yang Mudah

Era disrupsi teknologi saat ini, mengharuskan perusahaan asuransi syariah mampu memberikan sarana pembayaran kontribusi (premi) yang mudah diakses oleh nasabah.  Di era saat ini, nasabah dimanjakan dengan berbagai fasilitas kemudahan dengan adanya teknologi informasi (internet).  Mobile application bisa menjadi salah satu alternatif.  Jika tidak ada fasilitas ini, nasabah rasanya akan enggan untuk bersusah payah membayar kontribusi.

3.  Layanan Klaim yang Cepat dan Akurat

Pembayaran klaim menjadi hal penting dalam layanan prima (service excelent) perusahaan asuransi, apalagi asuransi umum syariah.  Pembayaran klaim tepat waktu adalah bukti kesungguhan dari perusahaan asuransi umum syariah memberikan bukti, tidak hanya janji pada awal menjadi nasabah.  Proses klaim yang cepat, tepat, akurat dan tidak bertele-tele adalah faktor kunci kepercayaan (trust) nasabah terhadap asuransi.  Layanan klaim yang prima yang dirasakan nasabah tentu akan disampaikan oleh nasabah tersebut kepada pihak lain, marketing by mouth atau 'pemasaran dari mulut ke mulut'.  Hal ini akan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak, nasabah puas, perusahaan mendapatkan promosi gratis.

4.  Surplus Underwriting

Salah satu kelebihan asuransi syariah yang sudah inherent di dalam sistemnya adalah adanya pembagian surplus underwriting dana tabarru' kepada nasabah/peserta.  Surplus ini harus dikelola dengan baik agar menjadi nilai tambah utama bagi asuransi umum syariah terutama nilai tambah dimata masyarakat awam yang akan merasakan benefitnya bahwa kontribusinya 'tidak hangus' apabila tidak ada klaim.

5.  Pendekatan Intensif kepada Mitra/Lembaga Keuangan Syariah

Sebagaimana telah disampaikan di atas bahwa pemilihan asuransi umum lebih dominan dikaitkan dengan mitra asuransi lembaga keuangan yang memberikan fasilitas kredit, seperti bank syariah, leasing syariah dan sejenisnya.  Dengan demikian, pendekatan intensif kepada lembaga-lembaga ini suatu hal yang sangat penting yang harus dilakukan.  Perlu cara dan strategi khusus dalam melakukannya agar menjadi market leader di lembaga tersebut.

Paling tidak itulah 5 hal utama yang diharapkan dapat mendorong asuransi umum syariah lebih diminati oleh masyarakat. Tentu masih banyak faktor-faktor lain yang bisa dikaji untuk mencapai tujuan tersebut.  Masih terbuka ruang untuk menjadikan asuransi umum syariah lebih diminati di masyarakat.

Referensi:
Karim Consulting Indonesia (Februari 2021), Outlook Asuransi Syariah 2021.



Kelebihan-kelebihan Asuransi Syariah (Bagian 2)

Pada bagian pertama, kita sudah melihat indikator kinerja utama asuransi syariah tahun 2018 dan 2019.  Pertumbuhan asset dan kontribusi (premi) asuransi syariah dari 2018 ke 2019 masih di bawah 10%.  Lebih spesifik asuransi umum syariah, kontribusinya malah turun 1%.

Market share asuransi syariah juga masih relatif kecil jika dibandingkan dengan asuransi konvensional, hanya sekitar 6%.  Sisi positifnya, market share yang kecil masih cukup banyak ruang untuk terus tumbuh.  Hal ini rasanya bukan basa-basi karena potensi market yang sangat besar untuk asuransi syariah di Indonesia.

Potensi market yang besar yang didukung oleh kelebihan-kelebihan yang dimiliki asuransi syariah diharapkan mampu meningkatkan minat masyarakat yang pada akhirnya dapat meningkatkan market share asuransi syariah di Indonesia khususnya.

Kelebihan-kelebihan asuransi syariah tersebut, kita jabarkan sebagai berikut:

Pertama, asuransi syariah mempunyai akad yang jelas sehingga terhindar dari unsur ghoror (ketidakjelasan akad).  Prinsip dasar asuransi syariah adalah berbagi risiko (risk sharing), dalam prinsip ini, risiko tidak dialihkan kepada perusahaan asuransi.  Risiko malah dikumpulkan dan bersama-sama dibawah oleh sekelompok pemilik risiko.  Skema mutual gurantee ini  diimplementasikan dalam bentuk pool of fund atau disebut juga dana tabarru'.  Setiap klaim yang sah akan dibayarkan dari dana tabarru' ini.

Dengan demikian, peran perusahaan asuransi bukan lagi sebagai penanggung, melainkan pengelola skema pembagian risiko.  Dengan konsep ini, pemilik risiko disebut peserta [bukan tertanggung (yang mengasuransikan)] dan perusahaan asuransi disebut operator (bukan penanggung).  Uang yang dibayarkan peserta untuk mengembangkan (memperbesar) dana tabarru' bukan lagi premi melainkan kontribusi.  Sebenarnya, istilah sumbangan lebih tepat karena uang yang dimasukkan ke dalam dana tabarru' oleh peserta dianggap sebagai sumbangan atau sumabangan dengan skema gotong royong (risk sharing).  Sedangkan kata "premi" atau "premium" memiliki konotasi harga akad jual beli atau tukar menukar yang cocok untuk asuransi konvensional tetapi tidak cocok untuk asuransi syariah.

Kedua, dalam skema risk sharing, terkandung niat atau motivasi tolong menolong (ta'awun) diantara sesama peserta asuransi yang tentunya hal ini bernilai ibadah.  Apalagi ada pula ungkapan bahwa bekerja adalah (bernilai) ibadah dimana ibadah adalah nama/sebutan bagi setiap aktivitas manusia yang dicintai Allah dan/atau diridhoi Rosul-Nya (al 'ibadah hiya ismun li-kullii maa yuhibbuhullahu warosuuluh).  Sekurang-kurangnya, dalam muamalah Islam terkandung nilai-nilai ubudiah (ibadah) dan dalam ibadah (ubudiah) terkandung pula nilai-nilai muamalah.  Hal ini mengingat Islam adalah agama ibadah dan sekaligus agama muamalah.

Ketiga, konsekuensi dari risk sharing, dana yang terkumpul dari nasabah (kontribusi) merupakan milik peserta, perusahaan asuransi hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya yang diberikan imbalan berupa fee atau ujroh pada akad wakalah bil ujroh atau berupa bagi hasil investasi apabila menggunakan akad mudhorobah.  Untuk memahami hal ini, akan dibahas tersendiri pada kesempatan berikutnya).

Keempat, pembayaran klaim diambil dari rekening tabarru' seluruh peserta yang sejak awal memang sudah diikhlaskan oleh peserta untuk keperluan tolong menolong bila terjadi musibah.

Kelima, menjalankan roda perusahaan asuransi dengan orientasi menjalin kerjasama di antara pemilik saham (anggota) dan mengembalikan dana yang tersisa kepada para peserta.

Keenam, investasi pada perusahaan asuransi syariah harus dilakukan pada skim investasi berbasis syariah.

Ketujuh, hanya menjalankan jenis asuransi yang sah menurut syariat dan hal-hal (objek pertanggungan) yang halal.

Kedelapan, disiplin mentaati hukum syariat dan sekaligus hukum negara.

Kesembilan, tunduk pada mekanisme pengawasan syariat.

Kesepuluh, diwajibkan memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS).

Dari hal-hal di atas, dapat kita lihat bahwa kelebihan utama asuransi syariah terletak pada niat dan motivasi, akad, peralihan modal dan perbedaan objek pertanggungan.

Kelebihan yang hakiki asuransi syariah terletak pada risk sharing yang mengandung konsekuensi tidak adanya ghoror (ketidakpastian/ketidakjelasan), maisir (gambling/judi) dan tidak adanya unsur riba dalam asuransi syariah.


Referensi:

  • Why is conventional insurance not in line with Shariah? (www.dkhairat.com)
  • https://dkhairat.com/2020/02/12/12-why-is-conventional-insurance-not-in-line-with-shariah-part-2/
  • https://dkhairat.com/2020/02/17/13-how-to-make-insurance-in-line-with-shariah/
  • Asuransi Syariah di Indonesia, telaah teologis, historis, sosiologis, yurudis dan futurologis. Prof. Dr. Drs. KH. Muhammad Amin Suma, BA, SH, MA, MM dan Iim Qoimudin Amin, SE, MSi, AAAIK, AIIS.  Penerbit Amzah, Jakarta.