√ TPL, Ringankan Sengketa di Jalan Raya - LiterasiAsuransi.com

24 September 2020

TPL, Ringankan Sengketa di Jalan Raya

Kondisi pandemi Covid-19 meningkatkan tingkat stress hampir sebagian besar masyarakat.  Tingginya stress bisa jadi karena memikirkan penjualan yang tidak kunjung meningkat.  Boleh jadi karena memikirkan usaha yang terancam gulung tikar.  Bahkan boleh jadi memikirkan makan besok hari karena pendapatan yang jauh berkurang.

Tingkat stess yang tinggi sedikit banyak mengganggu konsentrasi orang yang berkendara. Efeknya, peluang terjadi kecelakaan atau tabrakan di jalan raya meningkat.  Kalau single accident atau kecelakaan tunggal pengaruhnya hanya dirasakan oleh pribadi masing-masing.  Kalau terjadi tabarakan satu sama lain bahkan "beradu kambing"?  Efeknya bisa banyak, saling bersilat lidah bahkan boleh jadi mengarah kepada pertengkaran hebat, adu argumen siapa yang benar siapa yang salah, saling tuntut tanggung jawab.


Di negara jiran seperti Malaysia dan Singapura, pemerintahnya sepertinya udah 'menangkap' potensi risiko tersebut sehingga mewajibkan setiap yang punya mobil harus memiliki paling tidak proteksi asuransi third party liability (TPL) atau tanggung jawab hukum terhadap pihak ketiga.  Hal ini mengindikasikan betapa pentingnya proteksi TPL sampai negara mewajibkan warga negara untuk punya proteksi TPL jika punya mobil.

Melihat betapa pentingnya TPL, ada baiknya kita mengetahui bagaimana cara kerja TPL untuk orang yang punya mobil tersebut.

Seperti sudah kita bahas pada diskusi sebelumnyaTPL melekat pada polis Asuransi Kendaraan Bermotor jaminan (coverage) Comprehensive :


Ilustrasi sederhana cara kerja TPL:


Mobil yang dikendarai A menabrak mobil yang dikendarai B.  Tentunya, si B menuntut si A, dong. Nah, jika si A punya polis asuransi kendaraan bermotor dengan jaminan comprehensive, si A akan dengan tenang bilang ke si B:  "mobil Bapak/Ibu silahkan masukkan ke bengkel rekanan asuransi saya, nanti perusahaan asuransi saya yang akan urus kerusakan mobil Bapak/Ibu".  Suasana ketegangan akan mereda karena si B merasa tenang mobilnya akan diperbaiki.  Demikian pula si A, tidak perlu pusing memikirkan biaya perbaikan kerusakan mobil si B yang menjadi tanggung jawabnya karena sudah diambil alih perusahaan asuransi.

Pada kasus di atas, contoh jika salah satu pihak, jelas bersalah (dalam contoh di atas, si A) .  Bagaimana jika bobot kesalahan antara kedua nya sama dan masing-masing mempunyai polis kendaraan comprehensive? Jangan khawatir, ada yang disebut dengan knock for knock agreement antara sesama perusahaan asuransi.  Maksudnya, tidak pelu saling tuntut, masing-masing perusahaan asuransi akan memperbaiki kerusakan mobilnya.  Kerusakan mobil si A diperbaiki di bengkel rekanan asuransi si A.  Kerusakan mobil si B diperbaiki di bengkel rekanan asuransi si B.  Masing-masing pihak hanya membayar risiko sendiri dari pihak lain.  Risiko sendiri si A dibayar si B, risiko sendiri si B dibayar si A.  Jumlah risiko sendiri tidak besar, umumnya Rp 300 ribu.

Besarnya nilai TPL tergantung kepada permintaan kita, bisa Rp 10 juta, Rp 25 juta, Rp 100 juta atau berapapun.  Selama mampu bayar premi dan pihak asuransi menyetujui.

Dari sisi penggantian, Tuntutan dari pihak ketiga (TPL) yang diganti perusahaan asuransi, tidak hanya kerusakan mobil pihak lain saja seperti ilustrasi di atas.  Ada lagi  hal lain yang menjadi tanggung jawab asuransi yaitu:
  • biaya pengobatan, cidera badan dan atau kematian,
  • biaya perkara atau biaya bantuan para ahli yang berkaitan dengan tanggungj jawab hukum.  Untuk ganti rugi jenis ini, penggantian dari perusahaan asuransi 10% (sepuluh persen) dari Limit (Jumlah) Pertanggungan TPL dalam polis.

Preminya bagaimana, mahal atau tidak ?  Mahal atau murah tentu relatif. Yang jelas, Premi atau kontribusi asuransi kendaraan termasuk TPL, diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).  Premi atau kontribusi adalah hasil perkalian antara nilai TPL yang kita asuransikan dengan rate. Nah, rate atau tarif sebagai dasar dari perhitungan premi atau kontribusinya diatur sebagai berikut:

*UP:  Uang Pertanggungan


Misalkan, nilai TPL nya Rp 10 juta, maka premi atau kontribusinya  Rp 10 juta X 1% , cukup Rp 100 ribu saja.  Untuk lebih rinci, ada baiknya kita lihat contoh dari OJK berikut:


Oya, di atas disebut-sebut ada istilah kontribusi. Istilah tersebut merupakan istilah di asuransi syariah sebagai pengganti istilah premi.

Dilihat dari hitung-hitungan premi atau kontribusi di atas, rasanya gak mahal-mahal amat jika dibandingkan dengan peace of mind yang akan kita dapat:  ketenangan dan terhindar dari pertengkaran di jalan raya.

Get notifications from this blog

4 comments

  1. Betul, Pak...mencegah ribut2 di jalan raya lebih baik. Edukasi yang bagus, semoga para pembaca menjadi lebih mengerti manfaat dari perluasan TPL ini ๐Ÿ‘..
    Btw, gambarnya juga keren "Laga Kambing" ๐Ÿ˜๐Ÿ˜

    ReplyDelete
  2. hahaha siap, sama sama dan terima kasih sudah berkenan membaca. btw, dg siapa ya, soalnya "unknown".

    ReplyDelete
  3. ๐Ÿ‘Muantabs pak Haji, dg TPL bisa Damai Selalu, meminimalisasi Pertengkaran Umat...

    ReplyDelete
    Replies
    1. khoir, apalagi klo transaksinya di Syariah, lebih afdhol :))

      Delete