√ Jangan Kaget, Seperti Ini Proses Klaim Asuransi Umum Bekerja - LiterasiAsuransi.com

13 September 2020

Jangan Kaget, Seperti Ini Proses Klaim Asuransi Umum Bekerja

Pada sesi sebelumnya, kita sudah bahas paling tidak tiga hal yang mengagetkan Tertanggung pada saat proses penyelesaian klaim.   Rasanya, kekagetan tidak berhenti sampai disitu, masih akan berlanjut ketika proses klaim di asuransi umum masuk tahap perhitungan ganti rugi (claims adjustment).  Hal ini bisa terjadi karena tahapan-tahapan proses perhitungan dan penyelesaian ganti rugi yang dilakukan oleh asuransi umum jarang disampaikan, jarang di-expose.  Mungkin karena tidak ada petugas asuransi yang khusus menjadi "marketing klaim".

Ilustrasi perhitungan klaim
Tahapan proses perhitungan klaim (claims adjustment) dilakukan setelah dipastikan bahwa kerugian yang dialami Tertanggung dijamin polis. Topik mengenai jaminan polis, kita bahas pada sesi lain. Lantas, apa saja atau bagaimana tahapan atau langkah-langkah dalam melakukan perhitungan klaim tersebut? Tahapannya, paling tidak ada tujuh, yaitu:

  1. Memisahkan klaim sesuai harga pertanggungan polis,
  2. Memeriksa item-item kerugian yang tidak dijamin polis,
  3. Memeriksa jumlah (quantity) serta harga setiap unit,
  4. Menentukan dasar penyelesaian ganti rugi,
  5. Memperhitungkan barang-barang sisa klaim (salvage),
  6. Memeriksa kecukupan jumlah pertanggungan (adequcy of sum insured),
  7. memberlakukan risiko sendiri atau deductible (jika ada). 


Contoh Sederhana


Tertanggung mengasuransikan bangunan dan stok barang dagangan dengan jumlah pertanggungan total Rp 70 juta dengan rincian:
  -  Bangunan:  Rp 50 juta
  -  Stok barang dagangan:  Rp 20 juta
Deductible atau risiko sendiri: 5% of claim adjustment (5% dari perhitungan kerugian)

Tertanggung mengalami musibah (kerugian) kemudian melakukan tuntutan (klaim) ke pihak asuransi sebesar Rp 20,68 juta dengan rincian sebagai berikut:


Dari tuntutan (klaim) di atas, langkah-langkah yang dilakukan pihak asuransi adalah:


1.  Memisahkan klaim sesuai harga pertanggungan

Dari contoh di atas, harga pertanggungan pada polis terbagi dua, yaitu bangunan dan stok. Kerugian tersebut kemudian dikelompokkan menjadi dua juga yaitu bangunan dan stok:


2.  Memeriksa item-item yang kerugian yang tidak dijamin polis.


Pada contoh yang kita bahas ini, yang diasuransikan adalah bangunan dan stock.  Dengan demikian item-item yang dikecualikan atau bahasa sederhananya, item-item yang tidak akan diganti oleh pihak asuransi adalah: perbaikan saluran air dan penggantian lemari pakaian.  Pondasi juga tidak dijamin karena pada awal asuransi, tertanggung tidak mencantumkan bangunan tersebut termasuk pondasi. Dengan demikian, item-item yang dijamin adalah:


Terkait pondasi, harus jelas dari awal apakah bangunan termasuk pondasi atau tidak:


3. Memeriksa jumlah (quantity) serta harga setiap unit.


Pada tahapan ini, dilakukan pengecekan fisik (physical check) terhadap jumlah serta harga setiap item apakah sesuai dengan kerusakan atau tidak.  Misalnya, perbaikan tembok, tuntutannya 36 meter persegi namun setelah di cek ke lokasi, luas tembok yang rusak hanya 18 meter persegi,  harga perbaikan per meter persegi sudah sesuai. Pengecatan dinding, luasnya sudah sesuai namun harga per meter persegi over price seharusnya hanya Rp 25 ribu per meter persegi. Kuantitas rokok sudah sesuai, harga per bungkus harus disesuaikan menjadi Rp 14 ribu. Terakhir beras, ternyata dari hasil pengecekan - misalnya - harga per karungnya hanya Rp 350 ribu.

Berdasarkan pengecekan fisik tersebut, tabel ganti rugi tentu saja berubah menjadi sebagai berikut:


Sehingga sampai tahap ini, nilai kerusakan/kerugian yang dijamin polis sebesar Rp 13,91 juta.  Namun jumlah ini belum merupakan jumlah ganti rugi yang akan diberikan asuransi. Lanjut dulu ke tahap 4: apa dasar penyelesaian ganti ruginya, apakah reinstatement atau indemnity.


4.  Menentukan dasar penyelesaian ganti rugi


Secara sederhana, reinstatement itu adalah penyelesaian ganti rugi tanpa memperhitungkan faktor depresiasi untuk bangunan, sedangkan indemnity adalah penyelesaian klaim yang memperhitungkan faktor depresiasi.  Singkatnya, jika polis nya ber-basis reinstatement, ganti ruginya tidak akan dikurangi dengan unsur depresiasi, sebaliknya dengan polis yang ber-basis indemnity akan dikurangi dengan faktor depresiasi.

Polis-polis standar keluaran Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) merupakan polis ber-basis indemnity.  Berikut beberapa contoh polisnya:

  • Asuransi Kebakaran:  Polis Standar Asuransi Kebakaran Indonesia (PSAKI),
  • Asuransi Kendaraan: Polis Standar Asuransi Kendaraan Bermotor Indonesia (PSAKBI)


Polis yang basis-nya reinstatement adalah polis-polis all risk yang dikeluarkan/dibuat oleh reasuransi luar negeri, Munich Re, Jerman, contohnya:  Property All Risk Insurance, Industrial All Risk Insurance.

Cakupan jaminan polis all risk tentu lebih luas dari polis standar.  Konsekuensinya, premi polis all risk lebih mahal daripada polis standar.


5.  Memperhitungkan barang-barang sisa klaim (salvage)


Setelah dilakukan pengecekan ke lokasi, boleh jadi ada barang yang rusak namun masih bernilai sehingga bisa dijual.  Inilah yang dinamakan salvage. Ada dua cara dalam memperhitungkan salvage yaitu:

  • salvage dijual sebelum klaim dibayarkan atas persetujuan kedua belah pihak, dan
  • salvage dijual oleh pihak asuransi setelah pembayaran klaim dilakukan kepada Tertanggung.

Misal, untuk contoh kasus disini, salvage bernilai Rp 2 juta.  Jika salvage dijual sebelum klaim dibayarkan dan hasil penjualannya diterima oleh Tertanggung maka nilai penjualan salvage ini akan menjadi faktor pengurang klaim.  Apabila salvage dijual pihak asuransi setelah klaim dibayarkan, maka hasil penjualan salvage ini menjadi hak asuransi sebagai pengurang beban klaim bagi perusahaan asuransi.


6.  Memeriksa kecukupan jumlah pertanggungan (adequacy of sum insured)


Pada saat terjadi klaim, pihak asuransi akan memeriksa apakah harga/jumlah pertanggunan under insurance atau tidak.  Under insurance maksudnya harga pertanggungan yang diasuransikan lebih rendah daripada harga sebenarnya dari objek yang diasuransikan.  Dampaknya, ganti rugi akan diberikan diperhitungkan secara proporsional, perbandingan antara nilai pertanggungan dalam polis (sum insured) dengan nilai sebenarnya dari objek asuransi pada saat terjadi klaim sehingga ganti rugi yang diterima akan lebih kecil dari kerugian yang dialami.  Untuk lebih jelas mengenai under insurance bisa klik di sini.


Misal harga yang diasuransikan (sum insured) untuk bangunan sebesar Rp 50 juta. Harga sebenarnya bangunan adalah Rp 80 juta, maka ganti rugi yang diterima akan dikalikan dengan 50/80 atau ganti rugi yang diterima 'hanya' 62,5%.


7.  Memberlakukan deductible atau risiko sendiri (jika ada)


Misal, deductible nya 5% dari perhitungan kerugian.  Artinya, ganti rugi yang diterima akan dikurangi 5% dari perhitungan klaim yang dilakukan pihak asuransi.


Ganti Rugi Asuransi


Dari tahapan-tahapan di atas, maka ringkasan proses perhitungan kerugiannya  adalah sebagai berikut:


  -  Tuntutan tertanggung:  Rp 20,68 juta
  -  Kerugian tertanggung hasil penelitian pihak asuransi:  Rp 13,91 juta

Misal, untuk case ini, harga pertanggungannya cukup, tidak terjadi under insurance, sehingga tidak ada faktor pengurang akibat under insurance.  Berarti, faktor pengurang untuk contoh ini hanya deductible atau risiko sendiri dan salvage yang - misal - hasil penjualannya sudah diterima Tertanggung.

Kesimpulannya, ganti rugi yang akan diterima tertanggung adalah sebesar Rp 11.314.500:



Memperhatikan faktor-faktor pengurang klaim di atas, maka hal penting yang harus menjadi perhatian tertanggung pada saat menerima tawaran asuransi maupun pada saat terjadi klaim adalah:

  1. Pastikan objek asuransi sesuai kebutuhan kita, misal bangunan, mesin, inventory, stok dan lain-lain.
  2. Pastikan harga pertanggungan objek dalam polis sesuai dengan harga sebenarnya.  Hal ini untuk menghindari under insurance.
  3. Pastikan dasar penggantian kerugian polis: reinstatement atau depresiasi.  Jika dasarnya reinstatement, asuransikanlah barang dengan harga baru untuk menghindari under insurance.  Sebaliknya, jika polisnya ber-basis indemnity (polis-polis standar), asuransikanlah barang dengan memperhitungkan depresiasi sejak awal.
  4. Perhatikan barang sisa yang masih bernilai (salvage).
  5. Perhatikan deductible atau risiko sendiri yang diterapkan oleh pihak asuransi.

Berasuransi cermat, penuh manfaat.


Get notifications from this blog

2 comments