Kelebihan Asuransi Syariah (Bagian 1): Mencermati Statistik Asuransi Syariah 2019

Ilustrasi Asuransi Syariah

Kinerja Asuransi Syariah 2019


Sebelum membedah kelebihan asuransi syariah, kita lihat kinerjanya selama 2018 dan 2019.  Berdasarkan statistik OJK-IKNB (Otoritas Jasa Keuangan - Industri Keuangan Non Bank) syariah 2019, total perusahaan asuransi syariah berjumlah 62 perusahaan, terdiri dari:
Perusahaan Asuransi Syariah Indonesia 2019
Asset asuransi syariah (asuransi jiwa, umum dan reasuransi syariah) pada 2019 sudah mencapai Rp 45,45 trilyun, naik 8,33% dari Rp 41,96 trilyun pada 2018.  Sementara kontribusi (istilah premi di asuransi konvensional) yang berhasil dihimpun asuransi syariah pada 2019 sebesar Rp 16,7 trilyun, naik 8,69% dari Rp 15,37 trilyun pada 2018.  

Peningkatan kontribusi asuransi syariah berasal dari peningkatan kontribusi asuransi jiwa syariah (8,74%) dan reasuransi syariah (10,71%). Kontribusi asuransi umum syariah sedikit mengalami penurunan sebesar 1,08% dari Rp 1,85 trilyun pada 2018 menjadi Rp 1,83 triyun pada 2019.

Highlight statistik asuransi syariah 2019 dapat dilihat pada tabel berikut:
Statistik Asuransi Syariah 2019
Ikhtisar statistik asuransi syariah 2018 ditunjukkan pada tabel berikut:
Statistik Asuransi Syariah 2018
Pertumbuhan beberapa indikator penting asuransi syariah 2019 dibandingkan tahun 2018 dapat dilihat pada tabel berikut:
Statistik Pertumbuhan Asuransi Syariah 2018-2019
Kontribusi asuransi syariah 2019 dibandingkan 2018 memang mengalami peningkatan, namun jika dibandingkan dengan premi asuransi konvensional, porsi asuransi syariah masih relatif kecil.  Asuransi konvensional (asuransi jiwa dan umum) pada 2019 membukukan premi sebesar Rp 255,12 trilyun, berarti porsi asuransi syariah baru sebesar 6,5% dari total premi asuransi konvensional.

Rendahnya market share asuransi syariah seiring dengan tingkat penetrasi yang juga rendah, yaitu hanya 0,113% pada 2019 dan 0,104 pada 2018.  Sedangkan asuransi konvensional penetrasinya sudah mencapai 1,719% pada 2019.

Penetrasi yang rendah salah satunya boleh jadi karena faktor literasi asuransi syariah yang masih rendah. Indeks literasi asuransi syariah hanya 2,51% dan inklusi asuransi syariah hanya 1,92% berdasarkan survey nasional literasi asuransi dan inklusi keuangan 2016 oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Salah satu ikhtiar untuk meningkatkan literasi asuransi syariah adalah terus menyebarluaskan informasi mengenai kelebihan-kelebihan asuransi syariah.

Prinsip syariah tidak memerintahkan seseorang untuk menyerahkan segala sesuatu kepada Yang Maha Kuasa, tanpa melakukan ikhtiar apapun sebelumnya.  Setiap insan diwajibkan untuk berusaha semaksimal mungkin menghidari bahaya. 

Salah satu hadits terkenal yang terkait dengan pentingnya usaha (ikhtiar) adalah:

 قَالَ عَمْرُو بْنِ أُمَيَّةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَّ اللَّةِ ! أُقَيّدُ رَاحِلَتِيْ وَأَتَوَكَّلُ عَلَى اللَّهِ، أَوْأُرْسِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ؟ قَالَ : قَيِّدْهَا وَتَوَكَّلْ

“Amr bin Umayah Radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah !!, Apakah aku ikat dhulu unta (tunggangan)-ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal ? ‘Beliau menjawab, ‘Ikatlah kendaraan (unta)-mu lalu bertawakkallah”. [1]

Hadits di atas menegaskan pentingnya pengelolaan atau mitigasi risiko dan salah satu penegasan bahwa risk management merupakan hal yang utama dalam Syariah Islam.  Salah satu cara pengelolaan risiko adalah dengan cara asuransi, tentunya asuransi yang sesuai dengan tuntutan syariah yaitu asuransi syariah.

Asuransi syariah tidak sekedar memberikan ketenangan (peace of mind), namun mempunyai kelebihan-kelebihan lain.  Kelebihan lain dari asuransi syariah ini akan kita bahas pada bahasan berikutnya, "Kelebihan Asuransi Syariah (Bagian 2)". Jangan lupa terus menyimak :).

=======
Referensi:
  1. https://www.ojk.go.id/id/kanal/syariah/data-dan-statistik/iknb-syariah/Pages/Statistik-IKNB-Syariah-Periode-Desember-2019.aspx
  2. [1] . Musnad asy-Syihab, Qayyid ha wa Tawakkal, edisi 633, 1/368; https://almanhaj.or.id/965-bertawakal-kepada-allah.html






TPL, Ringankan Sengketa di Jalan Raya

Kondisi pandemi Covid-19 meningkatkan tingkat stress hampir sebagian besar masyarakat.  Tingginya stress bisa jadi karena memikirkan penjualan yang tidak kunjung meningkat.  Boleh jadi karena memikirkan usaha yang terancam gulung tikar.  Bahkan boleh jadi memikirkan makan besok hari karena pendapatan yang jauh berkurang.

Tingkat stess yang tinggi sedikit banyak mengganggu konsentrasi orang yang berkendara. Efeknya, peluang terjadi kecelakaan atau tabrakan di jalan raya meningkat.  Kalau single accident atau kecelakaan tunggal pengaruhnya hanya dirasakan oleh pribadi masing-masing.  Kalau terjadi tabarakan satu sama lain bahkan "beradu kambing"?  Efeknya bisa banyak, saling bersilat lidah bahkan boleh jadi mengarah kepada pertengkaran hebat, adu argumen siapa yang benar siapa yang salah, saling tuntut tanggung jawab.


Di negara jiran seperti Malaysia dan Singapura, pemerintahnya sepertinya udah 'menangkap' potensi risiko tersebut sehingga mewajibkan setiap yang punya mobil harus memiliki paling tidak proteksi asuransi third party liability (TPL) atau tanggung jawab hukum terhadap pihak ketiga.  Hal ini mengindikasikan betapa pentingnya proteksi TPL sampai negara mewajibkan warga negara untuk punya proteksi TPL jika punya mobil.

Melihat betapa pentingnya TPL, ada baiknya kita mengetahui bagaimana cara kerja TPL untuk orang yang punya mobil tersebut.

Seperti sudah kita bahas pada diskusi sebelumnyaTPL melekat pada polis Asuransi Kendaraan Bermotor jaminan (coverage) Comprehensive :


Ilustrasi sederhana cara kerja TPL:


Mobil yang dikendarai A menabrak mobil yang dikendarai B.  Tentunya, si B menuntut si A, dong. Nah, jika si A punya polis asuransi kendaraan bermotor dengan jaminan comprehensive, si A akan dengan tenang bilang ke si B:  "mobil Bapak/Ibu silahkan masukkan ke bengkel rekanan asuransi saya, nanti perusahaan asuransi saya yang akan urus kerusakan mobil Bapak/Ibu".  Suasana ketegangan akan mereda karena si B merasa tenang mobilnya akan diperbaiki.  Demikian pula si A, tidak perlu pusing memikirkan biaya perbaikan kerusakan mobil si B yang menjadi tanggung jawabnya karena sudah diambil alih perusahaan asuransi.

Pada kasus di atas, contoh jika salah satu pihak, jelas bersalah (dalam contoh di atas, si A) .  Bagaimana jika bobot kesalahan antara kedua nya sama dan masing-masing mempunyai polis kendaraan comprehensive? Jangan khawatir, ada yang disebut dengan knock for knock agreement antara sesama perusahaan asuransi.  Maksudnya, tidak pelu saling tuntut, masing-masing perusahaan asuransi akan memperbaiki kerusakan mobilnya.  Kerusakan mobil si A diperbaiki di bengkel rekanan asuransi si A.  Kerusakan mobil si B diperbaiki di bengkel rekanan asuransi si B.  Masing-masing pihak hanya membayar risiko sendiri dari pihak lain.  Risiko sendiri si A dibayar si B, risiko sendiri si B dibayar si A.  Jumlah risiko sendiri tidak besar, umumnya Rp 300 ribu.

Besarnya nilai TPL tergantung kepada permintaan kita, bisa Rp 10 juta, Rp 25 juta, Rp 100 juta atau berapapun.  Selama mampu bayar premi dan pihak asuransi menyetujui.

Dari sisi penggantian, Tuntutan dari pihak ketiga (TPL) yang diganti perusahaan asuransi, tidak hanya kerusakan mobil pihak lain saja seperti ilustrasi di atas.  Ada lagi  hal lain yang menjadi tanggung jawab asuransi yaitu:
  • biaya pengobatan, cidera badan dan atau kematian,
  • biaya perkara atau biaya bantuan para ahli yang berkaitan dengan tanggungj jawab hukum.  Untuk ganti rugi jenis ini, penggantian dari perusahaan asuransi 10% (sepuluh persen) dari Limit (Jumlah) Pertanggungan TPL dalam polis.

Preminya bagaimana, mahal atau tidak ?  Mahal atau murah tentu relatif. Yang jelas, Premi atau kontribusi asuransi kendaraan termasuk TPL, diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).  Premi atau kontribusi adalah hasil perkalian antara nilai TPL yang kita asuransikan dengan rate. Nah, rate atau tarif sebagai dasar dari perhitungan premi atau kontribusinya diatur sebagai berikut:

*UP:  Uang Pertanggungan


Misalkan, nilai TPL nya Rp 10 juta, maka premi atau kontribusinya  Rp 10 juta X 1% , cukup Rp 100 ribu saja.  Untuk lebih rinci, ada baiknya kita lihat contoh dari OJK berikut:


Oya, di atas disebut-sebut ada istilah kontribusi. Istilah tersebut merupakan istilah di asuransi syariah sebagai pengganti istilah premi.

Dilihat dari hitung-hitungan premi atau kontribusi di atas, rasanya gak mahal-mahal amat jika dibandingkan dengan peace of mind yang akan kita dapat:  ketenangan dan terhindar dari pertengkaran di jalan raya.

READable, Salah Satu Cara Memasarkan 'Cat Risks'

Potensi bencana begitu nyata di negera Indonesia.  Gempa bumi mengintai. Pada 2018 saja terjadi 3 gempa besar.  Lombok, Palu & Donggala serta Selat Sunda.  Sedikit ke belakang, terjadi Gempa Padang pada 2019 dan Gempa Yogya pada 2002.  Belum gempa lain yang goncangannya relatif kecil.  

Tidaklah heran banyak gempa di negara kita karena Indonesia terletak diantara ring of fire (cincin api) yang membentang dari Nusa Tenggara, Bali, Jawa, Sumatera lanjut ke Himalaya, Mediterania dan berujung di Samudera Atlantik. Ring of fire adalah zona dimana terdapat banyak aktifitas seismik yaitu aktifitas di dalam kerak bumi seperti adanya patahan atau adanya ledakan.  Energi ini akan merambat ke seluruh bagian bumi.  Efek yang ditimbulkan dari gangguan seismik [pergerakan lempeng (tektonik), bergeraknya patahan, aktivitas gunung api (vulkanik) adalah apa yang kita kenal sebagai fenomena gempa bumi.

Tsunami juga merupakan salah satu potensi bencana di negara kita.  Wajar tentunya karena Indonesia dikelilingi oleh lautan. Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 adalah salah satu bencana tsunami yang besar, sangat banyak menelan korban jiwa dan harta.  Gempa Palu pada 28 September2019 menimbulkan tsunami juga bahkan disertai likuifaksi, fenomena tanah bergerak.  Penggemburan tanah akibat gempa magnitudo 7,4 skala richter adalah faktor yang menyebabkan likuifaksi. Rumah bisa amblas ke dalam bumi.  Ratusan rumah ditelan bumi termasuk penghuninya yang tidak sempat menyelamatkan diri.

Kemudian, bencana banjir seperti sudah jadi 'langganan' di daerah tertentu.  Ada banjir tahunan, ada banjir siklus sekian tahunan (5 tahun, 10 tahun). 

Bencana, yang beberapa contohnya telah disebutkan di atas - gempa bumi, banjir, tsunami - adalah jenis risiko katastrop (catastrophical risks, cat risks).  Dampak cat risks menimbulkan kerusakan yang massive dan korban jiwa yang besar serta mencakup wilayah yang luas.

Risiko bencana alam dapat menimpa kepada siapa saja dan kapan saja, namun rasanya kesadaran orang terhadap risiko tersebut masih relatif rendah.  Boleh jadi hal ini terkait dengan pola risiko cat risks atau bencana alam yang bersifat:
-  Low probability but high consequences, ditambah
-  ada mindset: it may never happen to me.

Upaya agar setiap orang menyadari atau aware dengan cat risks atau bencana alam adalah menjadikan informasi, himbauan atau bahkan iklan cat risks tersebut READable. "Readable" disini tentu bukan dapat dibaca, tetapi singkatan dari:  RelevantEasyActionable, dan Distributed.


Untuk mudahnya, contoh berikut bisa lebih menjelaskan aplikasi dari READable tersebut:


Contoh pertama:


"Selama tahun 2018, telah terjadi 2.426
natural disaster atau bencana alam".
Informasi atau iklan atau apapun namanya, saya yakin pernyataan tersebut belum menghentak.  Seolah kita 'rabun jauh'. Paling kita membenarkan, "ya betul, bencana alam banyak sekali ya", atau "oh.... banyak sekali ternyata bencana alam di dunia ini".

Supaya tidak 'rabun jauh', pernyataan di atas harus 'diturunkan' menjadi informasi yang lebih rinci dan menghentak:
Tahun 2018, terjadi 2.426 bencana alam.  Berarti, kejadian bencana alam tersebut terjadi 6 kali setiap hari, 3 kali setiap 3 jam, dimanapun disekitar kita!!  Bisa saja terjadi ketika anda sedang rapat atau bahkan terjadi ketika anda sedang ngopi bareng teman-teman!!!  Are you disaster ready segera hubungi TRIPA CALL di 1500946.

Contoh kedua:


"Kerugian keuangan (financial losses) akibat bencana alam mencapai Rp 22 Trilyun per tahun".

Statement tersebut perlu dipertajam:

Kerugian keuangan akibat bencana alam mencapai Rp 22 Trilyun setiap tahun.  Berarti terjadi kerugian Rp 60 Milyar per hari, Rp 2,5 Milyar per jam!!!  Artinya, setara dengan 5 rumah hancur setiap jam!!  Bencana bisa terjadi dimanapun, kapanpun. Are you disaster ready? segera hubungi TRIPA CALL di 1500946.

Intinya, making data contextually relevant matters, frequency matters, engaging content matters and call to action is imminent.

50 Besar Reasuransi Dunia 2019 dari Sisi Pendapatan Premi

Ilustrasi Top 50 Reasuransi Dunia

Reasuransi adalah "asuransi"-nya asuransi.  Maksudnya, perusahaan asuransi akan mengasuransikan kembali risiko-risiko yang dikelolanya kepada perusahaan reasuransi.  Bisa juga kita katakan bahwa perusahaan asuransi adalah tertanggung atau nasabah dari perusahaan reasuransi.

Dimana posisi reasuransi dalam konteks industri asuransi secara keselurahan? Berikut gambarannya:

Proses reasuransi

Perusahaan Reasuransi di Indonesia


Perusahaan reasuransi yang ada di Indonesia tidak banyak, hanya 6 perusahaan:

  1. PT Reasuransi Indonesia Utama (persero), populer dengan sebutan Indonesia Re, perusahaan reasuransi milik negara (BUMN),
  2. PT Reasuransi Nasional Indonesia, dikenal dengan sebutan Nasional Re,
  3. PT Tugu Reasuransi Indonesia, nama populernya Tugu Re,
  4. PT Maskapai Reasuransi Indonesia, dikenal dengan nama Marein,
  5. PT Reasuransi MAIPARK Indonesia, nama pendeknya Maipark,
  6. PT Reasuransi Nusantara Makmur, dikenal dengan sebutan Nusantara Re


50 Besar Reasuransi Dunia 2019


Sedangkan perusahaan reasuransi di dunia, cukup banyak. Siapa saja TOP50-nya?  Reinsurance News merilis laporan Top 50 Global Reinsurance Groups tahun 2019.  Ranking atau urutan tersebut berdasarkan gross premium written (GPW) atau gross premi pada tahun 2019 berdasarkan data penelitian (research data) dari agen pemeringkat (rating agency) A.M Best.

Tiga besarnya: (1) Swiss Re, (2) Munich Re dan (3) Hannover Re.  Dua dari tiga besar reasuransi tersebut berasal dari Jerman.  Swiss Re berhasil menduduki peringkat pertama dengan pencapaian gross premi USD 42,2 milyar.  Munich Re yang menduduki peringkat kedua berhasil mencapai gross premi USD 37,9 Milyar.  Hannover Re yang menduduki peringkat ketiga berhasil membukukan gross premi sebesar USD 25,4 Milyar.  Scor Re berhasil menduduki peringkat keempat dengan pencapaian gross premi USD 18,3 Milyar.

Swiss Re dan Munich Re diperkirakan akan terus sebagai 2 besar reasuransi dunia karena kontribusi keduanya terhadap gross premi Top 50 pada 2019 mencapai 30%.

Dari TOP 50 yang di-published Reinsurance News, berikut 20 besar reasuransi dunia: